Judul :MAEMUNAH.
Format :Film
cerita panjang/ film bioskop.
Estimasi Durasi :2 jam(+-)
Ide cerita :Dimas
Arisandi.
Penulis naskah :Dimas
Arisandi.
Keunggulan
cerita :Diangkat dari kisah nyata
perjalanan hidup mendiang nenek sang penulis cerita.
Sinopsis :
Film
ini berkisah tentang perjalanan hidup seorang perempuan berdarah cina bernama “幸運的女孩” dibaca “Xìngyùn de nǚhái” yang
berarti gadis yang beruntung. Setelah diangkat anak oleh seorang saudagar
Keturunan Arab yang tinggal di kota Jambi (Indonesia), namanya diubah menjadi
“MAEMUNAH” yang berarti gadis yang kuat dan tabah.
Maemunah
dilahirkan sekitar tahun 1902 di sebuah kota pelabuhan
dipinggir laut negara Cina. Ia adalah anak kedua dari tiga bersaudara di keluarga
nelayan yang miskin. Pada masa itu di negara cina berlaku azas patrialkat yang
sangat kuat bahkan muncul sebuah Mitos “anak perempuan adalah pembawa sial,
anak laki-laki pembawa keberuntungan”, oleh sebab itu Maemunah dan kakak pertamanya
yang juga perempuan menjalani hidup sehari-hari bagaikan di Neraka. Mereka
diperlakukan tidak pantas oleh semua orang di lingkungannya tidak terkecuali ayahnya yang sering
bertindak kasar kepada mereka. Untunglah ibu mereka selalu menyayangi mereka
dengan tulus, walaupun ia selalu berpura-pura “jahat” ketika ayah mereka pulang
dari “melaut”. Ayah Maemunah selalu merendahkan dia dan kakaknya; menganggap
kesialan keluarga terjadi gara-gara mereka adalah perempuan. Setelah adik
laki-lakinya lahir hal itu sedikit berkurang, perhatian bapaknya selalu tertuju
kepada adiknya.
Bapak
Maemunah semakin percaya akan Mitos “anak perempuan adalah pembawa sial, anak
laki-laki pembawa keberuntungan”, dengan kemenangannya pada hobi berjudi pada satu
hari tidak berselang lama setelah kelahiran anak laki-lakinya. uang dari hasil
berjudi itu sangat cukup untuk membeli rumah baru dan seisinya, bahkan ia berniat membuka usaha dagang dan
membuat pesta untuk meresmikan tempat usahanya yang menjadi satu dengan
rumahnya. Pesta yang dihadiri oleh orang-orang penting di daerah itu berjalan
meriah, tetapi di balik kemeriahan pesta itu terdapat kesedihan yang terpendam
di hati Maemunah yang pada saat itu berusia 9 tahun. Maemunah dan kakaknya seolah-olah
dijadikan pembantu atau pelayan bagi semua orang yang hadir di pesta tersebut,
tak jarang ia jadi bahan olok-olokan bagi ayah dan teman2 “penting”nya.
Usaha
ayah Maemunah mengalami kemajuan, semakin lama semakin berkembang, tiap hari
pelanggan di toko ayah maemunah tidak pernah sepi. Tetapi berkelimpahan harta seringkali
tidak membuat orang menjadi lebih baik,
ayah maemunah semakin larut dengan hobi berjudinya, bahkan ia sering pulang
larut malam dengan kondisi mabuk berat dari tempat berjudi. Suatu malam ayah
maemunah pulang dengan kondisi mabuk berat dan ditemani oleh dua orang wanita
penghibur. Mereka memasuki pintu rumah dengan tertawa bergembira ria, suara
mereka membuat seisi rumah terbangun. Ibu maemunah yang melihat pemandangan
tidak enak itu segera menghampiri suaminya untuk mengusir para wanita
penghibur, tetapi ayahnya menolak keras. Terjadi pertengkaran mulut yang hebat
berujung kepada kekerasan. Ayah maemunah memukul ibunya dengan keras sampai
tidak sengaja mengenai sebuah lilin yang menyala, dan jatuh di dekat bahan yang
mudah terbakar. Api menyambar begitu cepat, membakar tubuh ibu maemunah dan apa
saja yang berada didekatnya. Para pembantu berusaha memadamkan api, tetapi api
sudah membesar dan sangat sulit untuk dipadamkan. Maemunah yang dari tadi
menyaksikan kejadian itu hanya diam terpaku tanpa bisa berbuat apa-apa,
tiba-tiba tangannya ditarik oleh kakaknya yang sedang mengendong adik laki-laki
mereka yang menangis. Dengan masih ditarik tangannya oleh kakaknya, Maemunah
dan seluruh orang yang berada di dalam rumah itu berlari menuju halaman depan
rumah. Ayahnya yang berhasil diselamatkan menangis dan berteriak-teriak
memanggil istrinya yang mati terbakar berikut dengan rumah dan seisinya, ia
sangat sedih dan terpukul akan kejadian itu, dalam hatinya ia menyalahkan
kesialan yang dibawa oleh kedua anak perempuannya. Ketika ia berpaling kearah
kakak maemunah ia melihat anak laki-lakinya masih selamat dalam gendongan anak
perempuannya itu. Tanpa basa-basi ia merebut bayi itu dari gendongan kakak
maemunah seolah-olah dia takut kesialan yang ditimbulkan oleh kedua anak
perempuannya itu menular pada anak laki-lakinya.
Hari
itu terik matahari seolah membakar apa saja yang berada dibawahnya. Maemunah
dan kakaknya berjalan bergandengan tangan sambil terseok-seok karena haus dan
lapar, di depan tampak ayah maemunah berjalan sambil menggendong anak
laki-lakinya sambil sesekali melihat kebelakang dan kemudian memarahi kedua
putrinya karena masih membuntutinya saja.
Sampai di suatu dermaga ayah maemunah melihat
ada kerumunan orang yang sedang mengikuti pelelangan wanita-wanita dari
berbagai ras yang di jual oleh seorang saudagar/pelayar. Timbul niat jahat dari
ayahnya untuk menjual maemunah dan kakaknya ke saudagar/pelayar itu. Setelah saling
tawar-menawar dengan saudagar itu ayah maemunah menyusun rencana untuk menjebak
maemunah dan kakaknya agar mau ikut dengan saudagar itu. Ayah maemunah
memanggil dua putrinya untuk menghampirinya. Ia menjelaskan kepada mereka bahwa
ada seseorang yang sangat baik mau memberikan mereka tempat tinggal dan makan.
Orang itu mengundang mereka kedalam kapalnya untuk makan bersama. Di dalam
ruangan mewah milik saudagar itu mereka berbincang-bincang dengan santai sambil
menyantap hidangan lezat yang tersedia di meja makan, tidak berapa lama
kemudian ayah maemunah pamit untuk keluar sebentar dengan alasan bayi
laki-lakinya menangis membutuhkan udara segar, padahal bayi laki-laki itu
menangis karena dicubit oleh ayahnya sendiri. Maemunah dan kakaknya masih
menunggu di dalam kapal saudagar itu, tapi semakin lama semakin suara tangisan
adiknya seolah menjauh dan menghilang. Kekuatiran berkecamuk dihati mereka,
apalagi ditambah sorot mata yang semain mencurigakan dari saudagar itu, dengan
santai saudagar itu mencoba menenangkan mereka dengan menjelaskan bahwa mereka
dijual ayah mereka dengan harga tinggi, jadi mereka jangan bertindak
macam-macam, jika mereka baik kelakuannya maka berkesempatan untuk dijadikan
istri oleh saudagar itu. Kontan saja mereka panik dan kemudian berusaha keluar
dari ruangan itu, tetapi usaha itu di tahan oleh saudagar bejat tersebut,
dengan reflek kakak maemunah mengambil botol yang ada didekatnya dan kemudian
memukulkannya ke kepala saudagar tersebut sampai pecah. Akhirnya meraka bisa
keluar dari ruangan tersebut, tetapi sesampainya disana mereka terkejut bukan
kepalang karena kapal sudah jalan menjauhi dermaga, mereka memanggil-manggil
ayahnya dari kejauhan, tetapi ayahnya cuek sambil berjalan menjauhi dermaga. Saudagar
bejat keluar dari ruangannya sambil memegangi kepalanya yang terus berdarah
kemudian ia memerintahkan para awak kapal
memenangkap maemunah dan kakaknya, mereka berontak dan menangis, tetapi
apa daya kekuatan para awak kapal yang bertubuh kekar diatas kekuatan mereka,
dan akhirnya dengan tangan dan kaki terikat mereka di masukan kedalam lambung
kapal yang berisi para wanita dagangan saudagar itu.
Berbulan-bulan
mereka dilambung kapal dengan hanya sesekali di beri makan dan minum. Mereka
tampaknya dapat berinteraksi baik dengan sesama tawanan. Maemunah yang
sebelumnya muntah-muntah karena mabuk laut telah berangsur-angsur baik oleh
karena perawatan kakaknya dan sesama tawanan wanita lainnya. Suatu saat seorang
awak kapal yang mabuk masuk kedalam lambung kapal ia hendak memperkosa
kakaknya, tetapi di cegah oleh maemunah, ia mendapatkan pukulan keras dari awak
kapal tersebut, dan akhirnya setelah dipegangi oleh tawanan lainnya karena
mereka kwatir maemunah akan dilukai lebih parah, awak kapal itu dengan beringas
memperkosa kakak maemunah di depan matanya sendiri. Mendadak maemunah
muntah-muntah karena mabuk laut yang belum sembuh benar dicampur rasa benci dan
jijik akan kelakuan awak kapal yang memperkosa kakaknya. Di dalam hatinya
berkecamuk rasa marah, dendam, sedih, bercampur aduk tidak karuan. Dia berusaha
menahan tangis yang sangat kuat mendera pelupuk matanya agar terlihat kuat
dimata kakaknya sehingga kakaknya ikut tabah menjalani cobaan yang teramat
berat itu. Sungguh kejadian yang luar biasa di mana seorang anak berumur 9
tahun bisa berusaha sekuat tenaga untuk tetap tabah menjalani derita yang amat
sangat.
BERSAMBUNG........